Lenin dan Trotsky Saling Melengkapi  

Posted by: SUMUT MERAH in

Apa perbedaan antara Lenin dan Trotsky? Apakah perbedaan ini harus terus dipertentangkan sebagai hitam dan putih atau sebagai benar dan salah? Sebagaimana telah kita ketahui dari tulisan-tulisan Lenin dan Trotsky, bahwa keduanya telah sepakat pada masalah-masalah fundamental dalam revolusi, seperti peran kontra-revolusi dari borjuasi; perlunya kaum pekerja dan tani membawa segera revolusi demokratik; signifikansi dunia internasional dalam revolusi; dan lain-lain. Sebuah perbedaan kemudian muncul dari formulasi Lenin mengenai “kediktatoran demokratik proletariat dan tani” yang akan melaksanakan tugas-tugas revolusi:“Kemenangan yang menentukan dari revolusi demokratik hanyalah mungkin dalam bentuk diktatur revolusioner-demokratis dari proletariat dan kaum tani.” (Lenin, Sosialisme dan Kaum Tani, 1905-1907).

Trotsky mengkritisi ketidakjelasan formulasi ini. Tidak jelas karena masih menyisakan pertanyaan; kelas mana yang akan memimpin kediktatoran. Lenin tidak mengatakan lebih jauh dalam bentuk apa kediktatoran revolusioner akan diambil. Bahkan dia tidak menghalangi kemungkinan elemen petani akan menonjol dalam kolaborasi ini.

Mengenai gagasan Lenin ini, kolaborasi proletariat dan tani, Trotsky mengatakan bahwa tak ada peristiwa dalam sejarah di mana kaum tani memainkan peran yang independen. Nasib dari revolusi Rusia akan ditentukan oleh hasil perjuangan antara kaum borjuis dan proletariat untuk memimpin massa petani. Kaum tani bisa digunakan sebagai instrumen revolusi atau reaksi. Artinya, kaum tani bisa bersikap revolusioner atau reaksioner.

Sebuah pemerintahan revolusioner, di mana kaum pekerja memimpin di bawah panji Marxism, menurut Trotsky, tidak bisa berhenti setengah jalan, mengikat dirinya untuk tugas-tugas borjuis, akan tetapi harus melompat dari tugas-tugas demokratik ke revolusi sosialis. Agar survive, kediktatoran revolusioner harus melakukan perang melawan kaum reaksioner di dalam dan luar negeri. Menurut Trotsky, sebagaimana juga Lenin, dengan kemenangan revolusi Rusia akan memberikan dorongan yang besar kepada revolusi sosialis di Barat yang akan datang untuk membantu negara pekerja Rusia dan menjalankannya melalui transformasi sosialis.

Ini kemudian dianggap sebagai kejahatan dari Trotsky dan teori revolusi permanennya di tahun 1905. Karena memprediksi apa yang akan terjadi pada 1917. Dia menjelaskan bahwa logika dari peristiwa-peristiwa pasti akan menempatkan kaum pekerja dalam kekuasaan.

Perbedaan antara Lenin dan Trotsky mengenai “kediktatoran demokratik proletariat dan tani” mengemuka ketika Trotsky mempertanyakan siapa yang akan dominan dalam mengambil kebijakan. Ini tidak berarti memberi pemahaman bahwa Trotsky menolak kolaborasi antara proletariat dan tani.

Sebagaimana Lenin, Trotsky berpendapat, kaum liberal Rusia tidak dapat mengadakan revolusi borjuis demokratik, dan tugas ini hanya bisa diemban oleh kaum proletariat dalam persekutuannya dengan kaum tani miskin.

Tuduhan Lorimer (dan juga kawan Danial) dalam “Trotsky’s Theory of Revolution: A Leninist Critique”, dimana Trotsky kurang memperhatikan peranan kelas petani dalam revolusi sangat tidak berdasar. Dalam kajiannya tentang Revolusi Permenen Trotsky menulis:

“Kaum proletar yang berkuasa akan berdiri di depan kaum tani sebagai sebuah kelas yang telah membebaskan mereka. Dominasi kaum proletar bukan hanya akan berarti persamaan hak yang demokratis, pemerintahan-independen yang bebas, pemindahan seluruh beban pajak ke kelas yang kaya, pembubaran tentara reguler dan pembentukan rakyat bersenjata, dan abolisi pajak gereja, tetapi juga akan berarti pengesahan seluruh perubahan relasi tanah (penyitaan tanah) yang revolusioner yang dilakukan oleh kaum tani.” (Revolusi Permanen, 2009).

Mengenai perbedaan lain sekaligus kelebihan Trotsky dari Lenin tentang kelas pekerja Rusia adalah Lenin tidak yakin bahwa kaum pekerja Rusia akan bisa mencapai kekuasaan sebelum terjadi revolusi sosialis di Barat, dan ini satu perspektif yang sebelum 1917 hanya dipertahankan oleh Trotsky. Tapi kemudian ini sepenuhnya diadopsi oleh Lenin dalam tesis-tesis April-nya tahun 1917. Dan dari semua kaum Marxis, hanya Trotsky yang meramalkan kediktatoran proletariat di Rusia sebelum revolusi sosialis di Barat.

“Adalah mungkin bagi para pekerja di negara yang ekonominya terbelakang untuk berkuasa lebih awal daripada para pekerja di negara maju...Dalam pandangan kita, revolusi Rusia akan menciptakan kondisi-kondisi di mana kekuasaan dapat pindah ke tangan kaum buruh – dan mereka harus mengambil kekuasaan bila mereka meraih kemenangan – sebelum politisi-politisi borjuis-liberal mendapatkan kesempatan untuk sepenuhnya menunjukkan keahlian mereka dalam memerintah.” (Revolusi Permanen, Resist Book, 2009).

Apakah ini berarti, sebagaimana yang dituduhkan oleh para penghujat Trotsky, bahwa Trotsky menyangkal sifat burjuis dari sebuah revolusi? Trotsky dengan terang menjelaskan:

“Di dalam kerangka revolusi borjuis pada akhir abad ke-18, di mana tugas objektif dari revolusi borjuis adalah untuk menciptakan dominasi kapital, kediktatoran sansculottes adalah hal yang mungkin terjadi. Kediktatoran ini bukan hanya sebuah episode yang sementara, ia meninggalkan pengaruh yang sangat kuat pada abad selanjutnya walaupun kediktatoran ini dihancurkan dengan cepat oleh kepungan batasan-batasan revolusi borjuis. Di dalam revolusi pada permulaan abad ke-20, di mana tugas objektif langsung dari revolusi ini adalah juga borjuis, muncul sebuah prospek dominasi politik kelas proletar yang tak-terelakkan, atau setidaknya mungkin terjadi. Kelas proletar sendirilah yang akan memastikan bahwa dominasi ini tidak menjadi hanya sebuah ‘episode’ sementara, seperti yang diharapkan oleh beberapa kaum filistin yang realis. Tetapi sekarang kita bahkan dapat bertanya pada diri kita sendiri: Benarkah tak-terelakkan bahwa kediktatoran proletar akan dihancurkan oleh batasan-batasan revolusi borjuis? Atau apakah mungkin kalau di dalam kondisi sejarah-dunia sekarang ini kediktatoran proletar dapat menemukan sebuah prospek untuk menghancurkan batasan-batasan tersebut? Di sini kita dihadapkan pada permasalahan taktik: apakah kita harus secara sadar bekerja untuk membentuk pemerintahan kelas pekerja seiring dengan perkembangan revolusi yang membawa tahapan ini semakin dekat? Atau apakah kita harus menganggap bahwa kekuasaan politik adalah sebuah kemalangan yang siap dilemparkan oleh revolusi borjuis kepada kaum buruh, dan kekuasaan politik ini harus dihindari (Revolusi Permanen, Resist Book, 2009)?

Apakah garis pemikiran Trotsky ini benar-benar diarahkan kepada Lenin? Atau ini ditujukan kepada kaum “Filistin" seperti Plekhanov, yang mengkhawatirkan konsekwensi dari independensi gerakan kaum pekerja? Dan mana di sini yang "melompat" dari pemerintahan Tsarisme ke revolusi sosialis, yang menurut para penghujat Trotsky, merupakan pokok dari teori revolusi permanen?

Selanjutnya, bagaimana posisi Lenin terkait dengan teori dua-tahap yang dikembangkan oleh Menshevik? Kaum Menshevik dengan teori dua-tahap-nya berpendapat; karena tugas-tugas revolusi ini adalah tugas-tugas revolusi borjuis demokratik, maka kelas borjuis demokratik nasional-lah yang harus mengambil kepemimpinan revolusi ini. Mereka menunda revolusi sosialis ke hari depan yang jauh, dan menyerahkan kepemimpinan buruh kepada kaum liberal. Posisi Lenin dekat dengan Trotsky. Dalam pandangan Lenin, kaum proletarlah satu-satunya kelas yang bisa diandalkan untuk berjalan hingga garis finis, karena mereka berjalan melampaui revolusi demokratik. (Lenin, Collected Works, vol. 9).

Di sini terlihat jelas posisi Lenin yang tidak berbeda dengan Trotsky, yang mempertahankan gagasan dari internasionalisme Marxist terhadap argumen picik Menshevik. Trotsky dan Lenin menekankan bahwa kondisi untuk sosialisme sudah sepenuhnya matang pada skala dunia. Dan revolusi Rusia, bagi Lenin dan Trotsky adalah jalan menuju revolusi sosialis internasional.

Berdasar dari argumentasi saya di atas, adalah tidak tepat mempertentangkan Lenin dengan Trotsky untuk membenarkan Lenin dan menyalahkan Trotsky, atau sebaliknya. Karena jelas, gagasan-gagasan cerdas Trotsky hadir untuk melengkapi Lenin dan Marxisme secara keseluruhan.

Syaiful Anam, koordinator Hands off Venezuela Indonesia, kontributor Mediabersama.com

This entry was posted on 12.32 and is filed under . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langganan: Posting Komentar (Atom) .

0 komentar

Posting Komentar